Nenek Pejuang

Posted on Updated on

2013-07-01 20.35.40

Nenek ku Pantang Menyerah

satu kali kumenginjakkan kakiku di tengah keramaian ini, hanya sekedar menghibur keadaan yang penat dan risau karena aktifitas yang padat. Canda tawa anak-anak terlihat tergambar di raut wajahnya. Berlarian kesana kemari, bahkan tendang-tendangan bola. Asyik jika rasanya aku kembali kemasa itu, masa dimana tidak ada tekanan hidup bahkan masalah sedikitpun. Itulah anak-anak dengan sejuta kegembiraannya. Setiap kali kuberjalan berkeliling, terlihatlah mereka muda mudi sedang asyik bercengkerama, berbalas perbincangan yang sedang mereka diskusikan. Indah jika rasanya semua seperti ini selamanya. Tapi ingatkah jika hidup itu terus berjalan, bertambahnya waktu, berubahnya keadaan, berkilaunya kehidupan akan merubah semua yang ada di diri kita.

Kita terlahir sebagai seorang bayi yang mungil polos tanpa dosa. Satu langkah kemudian, menjadi anak-anak yang ceria, main kesana kemari tanpa ada beban yang menghampiri. Untuk kemudian kita beranjak menjadi remaja yang mulai memikirkan apa arti sebuah kehidupan. Tujuan apa yang akan diinginkannya hingga dewasa nanti. Perjalanan hidup itu tak hanya lurus saja, namun akan tetapi ada kalanya kita menemui belokan dan cabang. Pilihan itu sulit, tapi itulah pilihan, harus ada yang dipilih. Benar atau tidaknya pilihan tergantung dengan apa yang kita kerjakan, berbaiklah kita dalam mengerjakan dan menjalaninya.

Hidup itu tidak hanya sebatas hitam dan putih saja, hanya orang munafik saja yang hanya nmemandang sebatas itu. Jauh di dalamnya ada banyak warna yang mewakili perasaan masing-masing. Takdir kita itu tidak ada yang tahu. Ada seseorang yang ditakdirkan sebagai orang yang berada dan berkecukupan dari kecil hingga tua nanti. Namun juga ada seseorang yang ditakdirkan sebagai orang yang bernasib kurang. Perjuangannya dari kecil membuatnya kuat dan tegar melawan kerasnya hidup.

nenek itu menunjukkan bahwa hidup itu perjuangan. Perjuangan dalam mempertahankan hidup ataukah perjuangan demi keluarga di rumah yang sedang menunggunya untuk pulang membawa hasil dari seharian ini di luaran rumah dalam usahanya berjualan. Tak bolehlah jika kali ini nenek itu tertidur pulas karena kelelahan yang teramat setelah seharian memperjuangkan hidupnya dan juga keluarganya.

Bisa kubayangkan bagaimana dia susah payah berusaha dalam bertahan hidup ini. Mengumpulkan sedikit demi sedikit hasil berjualannya untuk sekepal nasi. Masih pantaskah jika nenek setua itu masih keluyuran di luaran berjualan. Apakah itu sebagai aksi heroik untuk keluarganya yang menuntut untuk terus hidup. Apakah perlawanan hidup itu yang menuntunya harus seperti itu. Ataukah itu panggilan jiwanya, keinginannya untuk terus beraktifitas dalam mengisi hari-hari luangnya yang tidak mau diam.

Hidup itu pilihan. Nenek itu memilih untuk terus berjuang untuk kehidupan diri dan keluarganya untuk lebih baik. Tak pernah tercetus di dalam dirinya bahwa ia akan membawanya seperti ini. Dalam ketegarannya tersimpan keharuan yang mendalam. Pantasnya beliau dalam seusianya beristirahat menikmati masa-masa tua nya di rumah. Menjalaninya suasana hikmah dalam balutan rohani. Mendapatkan perhatian lebih dari anak-anaknya, setelah masa berjuang untuk anak-anaknya selesai.

Lelahnya tak membuatnya menyerah untuk berjuang, melawan malam dan kantuk yang menggantung dimatanya. Lihatlah betapa tegarnya beliau, berjuang untuk diri dan keluarganya di rumah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s